Catatan Seorang Prajurit di Daerah Konflik Ambon


Saya akan men-share sebuah Buku hasil catatan pribadi Letnan Kolonel Caj. Hikmat Israr, terbitan Budaya Media Bandung (2012). Sekali lagi, saya tidak akan mengutip secara keseluruhan isi buku tersebut. Cuma yang menyangkut tentang latar belakang pelaku, aspek kemiliteran, kondisi medan, dan pendapat penulis selama bertugas di Ambon.

Semoga sedikit sebanyak kita mendapatkan manfaat dari thread ini. Untuk mendapatkan bukunya, silahkan mengunjung toko-toko buku terdekat di daerah anda. Buku ini mulai diedarkan per Februari 2012.

Selamat Membaca.



Pendidikan Sekolah Lanjutan Perwira
Setelah bertugas kurang lebih 5 tahun di Brigade Infanteri 15/Kujang Siliwangi dari pangkat Letnan Satu hingga Kapten dengan jabatan organik Pabintal Brigif, ditambah dengan jabatan lainnya seperti Parohis Yonif 310 Brigif 15, dan Palakhar Kasiter Brigif 15, maka setelah melewati tes kesamaptaan dan jasmani langsung ditongkrongi oleh Danbrigif Kolonel Inf. M. Moesanip di lapangan. Alhamdulilah nama saya termasuk diantara daftar nama-nama yang diusulkan sebagai calon siswa Sekolah Lanjutan Perwira (kaskus) TA.1999/2000 yang kemudian kami dijuluki dengan “kaskus Milenium”. Pembukaan pendidikan dilaksanakan secara terpusat di Pusdik Armed Cimahi. Pendidikan dibuka oleh Dankodiklatad.

Diantara peserta kaskus Ajen yang jumlahnya saat itu 100 orang (istilahnya kaskus Cepek), saya termasuk diantara perwira yang tergolong yunior. Hanya 4 orang yang seleting dengan saya. Sebagai siswa yunior dan berasal dari Satpur yang berbaret hijau, saya harus mampu menunjukkan sikap dan tidak boleh terkesan lemah didepan senior. Seperti pada saat kesamaptaan jasmani, kawan-kawan seakan menuntut agar saya ada diurutan terdepan. Biasanya mereka berteriak,
“ Ayo Brigif....! Ayo Kujang...!”
Dan semangat sayapun terpacu untuk mempergegas lari, tapi tetap ada senior yang leih kuat dari saya. Seperti Kapten Caj. Nurwahyuddin yang memang sudah lama sebagai pelatih di Pusdik Ajen, dan Kapten Caj Agung Zamani yang lama berdinas di Akmil.

Mungkin dengan pertimbangan saya berasal dari pasukan, sehingga sudah terbiasa menggunakan pedang, maka dalam kesempatan upacara dimana siswa dipercaya sebagai Komandan Upacara, saya diminta sebagai Dan Up. Alhamdulilah penampilan tidak mengecewakan, saya bisa melakoninya dengan baik. Minimal saya tidak memalukan sebagai Corp Ajen yang lama berdinas dilingkungan Satpur Infanteri.

Sebelum kaskus, saya pernah mengikuti Diklapa I. Diantara materi pelajaran yang diberikan Gumil sebelumnya sudah ada yang pernah saya terima, jadi lebih bersifat pemantapan saja. Yang menarik, selama kaskus kami banyak mengikuti diskusi-diskusi. Karena saat itu hangat-hangatnya sorotan tentang HAM, penghapusan Sospol, bahkan wacana penghapusan Koter, maka persoalan-persoalan yang kami diskusikan terasa menarik. Saya berusah ikut aktif dalam diskusi tersebut, disamping untuk melatih mengemukakan pendapat, lebih-lebih untuk menghilangkan kantuk. Pokoknya, bila sudah diruang kelas, entah setan dari mana, bawaannya ngantuuuuk terus.

Bagi sebagian rekan, pendidikan kaskus menguras biaya, tapi bagi saya tidak. Disamping jarang ke kantin karena uang pas-pasan, bila pesiar tiba saya lebih memilih pulang kerumah. Karena rumah saya di KPAD Gerlong, relatif tidak terlalu jauh dari Pusdik Ajen. Hari sabtu adalah hari IB (Ijin Bermalam), terutama yang tinggal disekitar wilayah Jakarta memilih pulang terburu-buru dan tidak ikut makan siang setelah melaksanakan lari siang keliling markas. Padahal, menu makan siang hari sabtu tersebut termasuk spesial. Selalu daging dan ayam goreng. Karena banyak yang tidak ikut makan, lauk berlebih, rekan-rekan pada nambah sepuasnya, dapat menikmati dua atau tiga potong ayam sekali makan. Saya sendiri? Hanya menikmati satu potong, tetapi daripada mubazir, 3 potong saya masukkan plastik dan kantong dicelana loreng yang gombrong. Saya bawa pulang kerumah, lumayanlah untuk menambah lauk dan gizi keluarga. He..he..he...

Hari-hari penutupan pendidikan semakin memdekat, wajah-wajah siswa menunjukkan kecemasan, maklumlah setiap kami ketakutan bila usai kaskus ditempatkan didaerah rawan. Saat itu daerah yang paling rawan adalah Ambon, karena didaerah tersebut, meletus konflik horizontal atau konflik SARA yang mengakibatkan banyak korban jiwa. Ditambah salah seorang siswa kaskus sebelumnya bertugas di Kodam XVI/Pattimura Ambon. Ia membawa cerita serta foto-foto yang mengerikan tentang konflik dan pembantaian manusia yang terjadi di Ambon. Cerita-cerita kekerasan di Maluku juga diekspos oleh media massa, ribuan penduduk saat itu eksodus meninggalkan Ambon/Maluku.

Bila teman-teman, terutama yang selama ini hanya bertugas di Jawa menjadi gelisah karena khawatir dipindahkan ke luar Jawa, terutama ke Ambon, Papua dan Aceh, maka saya sedikit merasa lega, karena lewat Kabintaldam III/Siliwangi Letkol Caj.Ma’mun, saya memperoleh informasi bahwa saya akan dipertahankan untuk tetap bertugas di Kodam III/Siliwangi guna mengisi jabatan Kabintal Skogar Bandung-Cimahi.

Sebelum penutupan pendidikan kami menyelenggarakan malam perpisahan di Hotel Gumilang Sari jalan Setiabudi, Bandung. Sebelum acara perpisahan berakhir, saya sempat bingung kenapa rekan-rekan siswa banyak yang meninggalkan ruangan, pada hal suhu diluar gedung malam itu cukup dingin. Belakangan baru saya tahu dan sadari bahwa pada malam itu terjadi kegiatan “kasak-kusuk” siswa memperjuangkan penempatan. Padahal sebelumnya, Danpusdik Kolonel Caj. Andi Tanri Bali Lamo telah mewanti-wanti para siswa agar tidak interfensi dan kasak-kusuk dengan penempatan, agar menerima saja perintah yang diberikan, karena setiap prajurit sudah tandatangan siap ditugaskan dimana saja diselururh wilayah NKRI. Disamping itu, TNI-AD sudah memikirkan penggiliran tugas dan karir perwiranya. Tidak ada yang selamanya ditempat enak dan begitu juga tidak ada yang selamanya ditempat susah. Namun dimalam perpisahan tersebut yang juga ternyata malam penentuan penempatan para siswa mantan kaskus, sepertinya Siswa tidak mengabaikan arahan Danpusdik. Sehingga terjadilah “kasak-kusuk” diluar gedung perpisahan. Dimana, siswa mengontak seseorang yang saya tidak tahu dan tidak mengerti.

Keesokan harinya kami mengadkan Gladi Penutupan kaskus TA.1999/2000 di Pusdik Armed, Cimahi. Sepulang galdi, sesampai di Pusdik Ajen, ada siswa yang mengajak saya ke Wartel, katanya ada bocoran info penempatan. Beberapa teman yang lain juga turut ke wartel bersama-sama. Saya ditugasi teman untuk mencatat nama-nama yang diucapkan rekan tadi hasil pendengarannya lewat telepon dari seseorang diseberang sana. Pas giliran nama saya disebut, perasaan saya langsung lemas dan sulit mempercayai apa yang saya dengar.
“ Kapten Caj. Hikmat Israr penempatan Kodam XVI/Pattimura!”
Saya masih melanjutkan menulis nama-nama berikutnya, namun perasaan saya sudah tidak karuan lagi.

Mungkin karena saya tidak pernah mengira sama sekalai akan ditugaskan di Ambon yang tengah terbakar oleh kerusuhan, maka saya sempat syok, saya sedih membayangkan nasib saya. Terutama bagaimana nasib keluarga kedepannya karena sebelumnya saya tidak mengantisipasi, tidak mempersiapkan mental maupun finansial untuk pindah ke kesatuan yang jauh, apalagi diwilayah konflik seperti Maluku. Tetapi saya istiqfar, saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa, juga tidak kepada rekan-rekan yang “kasak-kusuk” nya berhasil. Saya mencoba meyakinkan hati saya bahwa ini memang sudah suratan takdir dari Allah SWT yang harus saya terima dengan sabar dan tegar. Setelah merasa tenang, saya telepon istri, saya kabari bahwa saya mendpaat tugas di Ambon. Istri meminta saya bersabar, karena mendengar berita mendadak tersebut, ia juga turut prihatin dan bersedih hati.

Keesokan harinya, usai upacara penutupan dan kami menerima Ijazah dan Skep Penempatan, saya berusaha melangkah kedepan dengan tegar, saya hentakkan langkah pertama dengan keras, saya berikan penghormatan pada Danpusdik yang memberikan Ijazah. Selama yang kami jalani selama 4 bulan sekarang berakhir, satu persatu kami meninggalkan Pusdik, mungkin inilah saat terakhir kami menginjakkan kaki di Pusdik Ajen, karena kaskus Ajen adalah pendidikan kecabangan yang tertinggi di Korps Ajen, dan kami berhasil menyelesaikannya.
“ Selamat tinggal Pusdik Ajen yang saya banggakan, yang telah banyak menempa saya sejak awal menjadi perwira Ajen. Selamat tinggal Tangkuban Perahu, Maribaya, dan alam Lembang yang sejuk. Semoga suatu saat nanti saya bisa merasakan lagi kesejukanmu, tetapi bukan kedinginan dan menggigil akibat berkali-kali direndam pelatih ditengah malam di Maribaya. Biarlah semua ini menjadi kenangan indah yang tak terlupakan”.

Besoknya saya ke Brigade melaporkan ke Danbrig bahwa pendidikan kaskus yang saya ikuti sudah selesai, dan saya ditempatkan di Ambon. Danbrig sempat kaget dan prihatin, karena penempatan saya tidak sesuai dengan yang diprediksi semua.
“ Srar, gimana kalau kamu saya plot saja dalam Satgas Brigade yang akan berangkat tugas ke Aceh? Jadi kamu tidak usah ke Ambon. Nanti kita sarankan lagi agar kamu tetap di Siliwangi, kan jabatan Kabintal Skogar tetap kosong?” ujar Kolonel Inf M.Moesanip, Danbrig 15 Kujang yang sudah saya anggap seperti orang tua sendiri. Saya jawab,
“ Tidak usah Komandan, biarlah saya tetap ke Ambon sesuai Skep Kasad, mungkin saya memang dibutuhkan disana”
Penempatan di Maluku
Saya hubungi lewat telepon Kabintaldam XVI/Pattimura, Letkol Caj. Telelapta, mengabari bahwa saya Kapten Caj. Hikmat Israr dapat tugas jabatan sebagai Kabalak Binatal Bintaldam XVI/Pattimura, dan melaporkan akan berangkat ke Ambon setelah ada Surat Perintah pelepasan dari Pangdam III/Siliwangi dan dari Danbrigif 15 Kujang Siliwangi. Saya tidak tahu apakah Kabintal merasa cemas atau gembira dengan rencana kedatangan saya ke Ambon tersebut. Yang jelas ia mengemukakan situasi Ambon saat itu sangat-sangat gawat, dan kalau berangkat beliau mewanti-wanti agar jangan sampai membawa keluarga, sebab keselamatan diri sendiri saja tidak ada yang bisa menjamin.

Karena saya seorang Muslim, saya disarankan untuk berangkat Ke Ambon menggunakan KM. Bukit Siguntang yang nantinya akan berlabuh di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon. Rupanya laut pun sudah terbagi, pelabuhan Yos Sudarso untuk komunitas muslim, dan pelabuhan Halong untuk komunitas Nasrani. Bila saya berangkat menggunakan pesawat udara, maka perjalanan dari Laha (Bandara) menuju Ambon penuh resiko. Akhirnya pilihan berangkat saya putuskan lewat laut via KM. Bukit Siguntang.

Karena saya masih buta sama sekali tentang Ambon dan Maluku, saya berusaha mencari informasi melalui media massa dan buku-buku yang ada kaitannya dengan Maluku. Yang paling penting lagi, istri, anak-anak, Bapak serta Bapak mertua saya mengikhlaskan saya berangkat. Keikhlasan dan iringan doa dari orang-orang terdekat tersebut sangat saya butuhkan sebagai seorang prajurit, karena dengan semua itu dapat membuat saya tenang dan langkah saya mantap menuju daerah penugasan.

Sebelum berangkat, saya mengunjungi beberapa mantan atasan saya, seperti Brigjen TNI Purn. Abdul Aziz dan Kolonel Inf. Teguh untuk meminta nasehat sekaligus berpamitan. Nasehat-nasehat yang mereka berikan memperteguh dan memantapkan tekad saya untuk melaksanakan tugas di Maluku. Pak Aziz bilang,
“ Maluku itu ibarat miniatur Indonesia, penuh dengan keanekaragaman sehingga rentan terhadap konflik. Tidak mudah bertugas disana, tetapi itulah tantangan. Siapa yang sukses melaksanakan tugas disana, maka ia akan sukses juga bila ditugas kan di pusat untuk tugas-tugas yang skupnya nasional. Ini tantangan bagi kamu Srar!”
Sementara nasehat Pak Teguh,
“ Kamu harus bersyukur Srar ditempatkan di Maluku, disana lagi konflik sehingga kamu bisa berbuat sesuatu. Saya sangat prihatin dengan banyaknya jatuh korban di sana.....”
Memenuhi Panggilan Tugas
Lambaian tangan istri dan anak-anak dihalaman rumah serta sepenggal doa agar yang berangkat dan yang ditinggalkan selalu dalam lindungan Allah SWT, menghantar langkah kaki saya memenuhi panggilan tugas. Dengan mengenakan seragan loreng PDL, berbekal satu pluzak berisi pakaian ganti dan natuna tempur berupa T2 dan TB1 pemberian Brigade, serta 1 duz Supermie, saya tinggalkan kota Bandung yang sejuk menuju kota Ambon yang tengah panas membara.

Entah dengan alasan apa, rekan yang sama ditugaskan ke Ambon seusai kaskus dengan saya tidak satu jadwal keberangkatannya yang berbarengan dengan saya, mungkin karena secara ekonomi mereka lebih beruntung, sehingga besar kemungkinan berangkat dengan pesawat terbang. Sedangkan saya memilih naik kapal laut KM. Bukit Siguntang kelas ekonomi. Ketiadaan rekan yang mendampingi selama perjalanan membuat saya berasa berangkat ke medan operasi seorang diri. Padahal dalam penugasan operasi ke Timor Timur yang pernah saya jalani, saya berangkat dengan rekan-rekan berkekuatan 1 Batalyon.

Karena saya berangkat sendiri tanpa ada rekan menemani, diatas kapal kemudian saya berusaha mencari kenalan, terutama penumpang dengan tujuan Ambon. Lewat kenalan baru yang kebanyakannya adalah pedagang tersebut, saya memperoleh informasi terkait dengan konflik Ambon. Cerita-cerita yang mengerikan tentang berbagai kejadian selama konflik berlangsung mengalir dari mulut mereka, sehingga 4 hari perjalanan dari Tg.Priok meuju Ambon tersebut menambah pengetahuan saya tentang Ambon dan konflik yang tengah terjadi disana.

Saya tidak tahu apakah pada waktu-waktu sebelumnya setiap kapal yang berangkat dar Jakarta menuju Ambon selalu dipadati penumpang. Ynag jelas saat itu saya rasakan penumpang sangat berjubel, digang-gang, dipalka, dikoridor luar, ditangga, semua penuh tumplek oleh penumpang. Kebanyakan mereka lelaki remaja dan dewasa.
“ Aneh, kok kedaerah yang lagi rusuh kapal banyak penumpangnya?” tanya saya dalam hati.
Belakangan baru saya sadari, ternyata diantara penumpang kapal terdapat Laskar Jihad yang tengah menuju Ambon/Maluku dalam rangka membela kaum muslimin yang menurut mereka teraniaya dan nyawanya terancam. Pantas, setiap sholat jamaah musholla dikapal selalu penuh, selalu ada ceramah agama yang intinya mengokohkan iman dan pentingnya jihad dalam islam. Kesan yang religius sangat terasa dalam pelayaran ini, banyak yang berpakaian gamis, membawa Al-Quran kecil membacanya, dan sebgaian berzikir dengan tasbih.

Dalam pelayaran ke Ambon, KM. Bukit Siguntang singgah berlabuh di Tanjung Perak Surabaya, Makassar, dan Bau-Bau. Disetiap pelabuhan saya sempat turun hanya untuk merasa keenakan makanan khas masing-masing tempat. Saat di pelabuhan Bai-Bau, seorang rekan perjalanan melalui Wartel menelpon saudaranya di Ambon. Infonya saat itu Ambon dalam kondisi mencekam, suara tembakan dimana-mana. Asrama Brimob di Tantui yang didiami oleh sekitar 2000an personel Polda Maluku habis musnah terbakar. Gudang senjatanya dibobol massa, bahkan Wadansat Brimob Mayor Pol. Eddy Susanto turut terkorban dalam kerusuhan yang menewaskan sedikitnya 20 orang dan ratusan lagi cedera berat/ringan.

Info keadaan Ambon terkini tersebut dengan cepat menyebar luas ke para penumpang kapal lainnya. Saya merasakan suasana gelisah menghantui para penumpang. Terutama mereka yang tempat tinggalnya di Ambon, perang tengah berkobar, mereka bingung mau pulang kemana. Laskarpun demikian keadannya, meskipun mereka teelah mempersiapkan diri untuk berjihad, kegamangan tetap terpancar diwajah mereka. Maklumlah mereka bukan tentara yang memang disiapkan untuk berperang, dan mereka belum memahami keadaan perang yang sesungguhnya. Saya lihat di antara mereka saling menguatkan diri, kemudian bersikap pasrah terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

Didalam kesendirian dan menghadapi ancaman bahaya didepan mata, serta memperoleh informasi bahwa aparat di Ambon pun sudah terpecah dam memihak, selintas saya sempat berfikir mau tidak mau saya pun harus berpihak juga, yaitu mendukung kelompok putih karena sya beragama Islam. Namun, cepat-cepat pikiran itu saya buang jauh-jauh, saya teguhkan tekad dalam hati,
“ Saya datang bukan untuk membela kelompok putih maupun kelompok merah, saya datang untuk membela merah putih! Dan akan berjuang mewujudkan Maluku yang damai dengan segenap jiwa raga dan kemampuan yang saya punya!”.
Kapal melewati samudera lepas yang penuh dengan guncangan gelombang dimalam hari. Biasanya saat melewti Laut Banda yang meruoakan laut terdalam di Indonesia para penumpang sudah terlelap tidur, sehingga gelombang yang besar tidak terlalu digelisahkan. Tapi malam itu saya susah tidur, gelisah, mungkin karena memikirkan mau kemana besok saya sesampai di Ambon.

Semakin mendekati Teluk Ambon penumpang kapal semakin gelisah, tak terkecuali sayapun merasakan hal yang sama. Seusai sholat subuh berjamaah berdoa meminta kekuatan dan perlindungan Allah, seragam PDL loreng kembali saya kenakan. Meski tanpa senjata api dan hanya bersenjatakan sebilah sangkur dipinggang, saya kuatkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Melalui pengeras suara, berkali-kali diumumkan keadaan Ambon yang tengah memanas dan kapal hanya akan bersandar sebentar saja di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon. Penumpang yang akan turun diminta bersiap-siap dan agar memperhatikan faktor keselamatan sesampai tujuan. Semua penumpang yang di dek luar diperintahkan masuk kedalam kapal untuk menghindari terkena tembakan yang mungkin dilepaskan oleh perusuh di daratan. Diluar sana, kobaran api serta asap hitam membunmbung tinggi ke langit dan beberapa kali terdengar dentuman-dentuman bom rakitan. Sayup-sayup gema suara tembakan memecah kesunyian pagi yang gerimis. Dengan menyandang pluzak dibahu saya berdiri dipintu keluar kapal yang masih tertutup. Seorang polisi pengamanan kapal bertanya kepada saya,
" Didarat tengah perang ndan, apakah Komandan membawa senjata?"
Saya hanya bisa menggeleng sambil berkata,
" Tidak!". Kemudian polisi itu berujar,
" Hati-hati Ndan, keadaan Ambon lagi genting, jaga diri baik-baik".
" Terima kasih pak!" balas saya.

Satpam kapal juga bertanya kepada saya,
" Komandan mau kemana?"
" Mau ke Kodam, tapi saya belum tahu tempatnya, kira-kira dimana ya?" jawab saya.
Satpam tersebut menjawab,
" Wah, jalan ke Kodam sudah dipalang dengan container, tidak bisa lagi kesana, sekarang lagi perang!"
Saya benar-benar bingung mendengar penjelasan tersebut.

Ketika tangga kapal terhubung dengan daratan, dan pintu kapal terbuka, beberapa orang bersenjata dan berpedang terhunus menyerbu masuk. Penampilan mereka beringas seraya berteriak,
" Mana Obet!..Mana Obet!..beta mau bunuh! beta mau potong! Mana?"
Keadaan semakin mencekam. Beberapa orang yang bersenjata pedang terhunus membawa kotak duz karton yang bertuliskan "Sumbangan Untuk Amunisi dan Bom". Polisi dan Satpam pengamanan kapal tidak berkutik. Hanya bisa membiarkan laskar tersebut berkeliling menemui penumpang mengumpulkan sumbangan.

Hujan gerimis pagi hari mulai deras, saya dengan ragu melangkah turun. Untunglah diantara penumpang yang mau turun tersebut terdapat 5 orang personel prajurit Yonif Linud 733. Ketika mereka memberi penghormatan kepada saya, langsung saya sapa,
" Dek, saya baru kali ini ke Ambon, tolong dampingi saya turun".
Mereka langsung menjawab,
" Siap Komandan!"
Dan salah seorang diantara prajurit tersebut tanpa disuruh langsung membantu mengangkat pluzak saya. Tanpa menghiraukan hujan yang belum juga reda, kami berenam menuruni tangga kapal kemudian menuju salah satu emperan gudang di pelabuhan untuk berteduh.
Hari Pertama di Ambon
Tetesan air hujan dipagi hari, diiringi gema rentetan suara tembakan dan dentuman bom, seakan mengucapkan selamat datang menyambut kehadiran saya di tanah Ambon yang saat itu tengah dilanda konflik. Meskipun kedatangan saya sebelumnya sudah diinformasikan ke atasan, namun tidak seorang pun anggota yang datang menjemput di pelabuhan. Saya dapat mengerti, dengan kondisi yang sedang rusuh dan berbahaya itu, orang lebih memilih menyelamatkan diri sendiri daripada memikirkan keselamatan orang lain.

Dalam kebingungan hendak kemana langkah mau ditujukan, prajurit Yonif Linud 733 menawarkan agar saya ikut mereka saja ke asrama.
" Komandan, ikut kami saja, nanti diasrama akan kami perkenalkan dengan perwira atasan"
Tanpa banyak kkomentar dan berfikir lagi, ajakan tersebut langsung saya terima. Saya ikuti langkah mereka berlari kecil membelah hujan menuju angkot. Dengan mencarter angkot kami keluar pelabuhan menuju asrama Yonif Linud 733 (sekarang Yonif 733 Raiders) di Benteng New Victoria (sekarang menjadi Markas Denkav XVI/Pattimura).

Angkot melaju kencang dan zig zag menghindari container-container yang bertebaran ditengah ruas jalan sebagai batas kelompok yang tengah berseteru dan juga mungkin sebagai tempat perlindungan dari tembakan. semua kami merunduk dalam angkot, seorang prajurit mengingatkan,
" Merunduk lebih dalam lagi Komandan, jangan sampai kena tembakan!"
Dimana-mana suara tembakan bergemuruh diselingi dentuman bom, entah organik atau rakitan. Satu dua terdengar menhantam angkot yang kami naiki. Saya tidak berani mendongakkan kepala untuk mengetahui dari mana asal tembakan tersebut. Kepala dan badan hampir rata dengan lantai angkot, dalam hati saya berdoa, " Ya Allah selamatkanlah kami".

Diatas angkot, seorang anggota berkomentar,
" Hati-hati Komandan, coklat adalah musuh kita!"
Saya sempat bingung dengan apa yang baru dijelaskan. Kemudian saat dijelaskan baru saya mengerti, maksudnya saat itu di Ambon Polisi/Brimob yang disebut dengan julukan "Coklat" tengah berkonflik dengan TNI yang disebut dengan "Hijau". Prajurit tersebut meyakini, bahwa diantara suara-suara tembakan tersebut berasal dari bangunan bertingkat yang diduduki oleh para sniper kelompok coklat, dan yang jadi sasaran utamanya adalah kelompok hijau. Saya sempat bingung memperoleh penjelasan prajurit tersebut.
" Sampai separah itukan kondisi di Ambon? Mudah-mudahan TNI-Polri masih akur-akur saja", bisik saya dalam hati.

Dari berbagai informasi yang saya peroleh, baik melalui media maupun warga Ambon sesama penumpang kapal dan prajurit yang bertugas di Ambon, saya jadi bingung sendiri dengan begitu banyaknya kelompok yang terlibat dalam konflik Maluku. Ada kelompok Putih (Muslim), Kelompok Merah (Nasrani), Kelompok Coklat (Polri), Kelompok Hijau (TNI), Kelompok Kuning (Kesultanan Ternate), Kelompok Merah/Putih (Aparat yang netral), bahkan Kelompok Siluman yang tidak memperlihatkan warna kelompoknya dan bisa hadir dimana-mana. Kelompok terakhir inilah yang menurut hemat saya paling berbahaya, ia bagaikan bunglon yang berganti-ganti warna, dengan tujuan yang sulit diterka. Sebutan Provokator mungkin paling pas buat mereka. Ditengarai kelompok provokator inilah yang membuat konflik di Maluku berlarut-larut dan sulit diatasi.

Kami masuk asrama Benteng New Victoria melalui jalan belakang yang dikuasai oleh kelompok putih, sedangkan jalan didepan benteng dikuasai oleh kelompok merah. Angkot tidak bisa masuk karena terhalang kenderaan Feroza mobil dinas Kodam yang terparkir dijalan masuk asrama. Diantara prajurit ada yang langsung menuju asrama tanpa memperdulikan hujan yang belum juga reda, mungkin untuk mengabari ke salah seorang perwira Batalyon bahwa ada seorang perwira yang baru saja datang di Ambon dan tengah kebingungan mau kemana.

Namun sebelum prajurit tersebut kembali, sopir mobil Feroza yang dikendarai oleh PM tersebut datang menghidupkan mobil dan siap berangkat. Buru-buru saya tanya,
" Eh, mau kemana ini?"
" Ke Mess Perwira Pak!"
Mendengar mess perwira, sayapun tidak berfikir panjang.
" Saya ikut!"
" Silahkan, Pak" ujarnya.

Melebihi kecepatan angkot yang saya naiki tadi, mobil dinas ini dilarikan dengan kencang dan zig zag.
" Maaf pak, mobil harus kencang biar tidak kena bidikan tembakan. Bapak merunduk saja!" ujar PM tersebut.
Saya sempat mengintip keluar,beberapa orang berpakaian preman tengah menenteng senjata laras panjang, ada yang berkelompok beberapa orang dibelakang box container, entah diposisi bertahan atau menyerang. Yang jelas container yang ditumpuk ditengah jalan tersebut seakan menjadi pembatas antara wilayah kelompok merah dan kelompok putih.

Tidak lama, kami sampai ke Mess Perwira. Keadaan sepi. Besar kemungkinan sebagian perwiranya sudah mengungsi, dan boleh jadi Feroza barusan habis mengantarkan perwira yang mengungsi ke Benteng Victoria. Rupanya mess perwira berdampingan dengan rumah dinas Pangdam dan Kasdam. Letak mess tersebut dijalan Dr. Latumentan, dihadapan RST. Karenanya, didaerah tersebut ditempatkan pos TNI menjaga kediaman Pangdam dan diberi barikade, makanya jalan tersebut terlihat sepi dari lalu lalang massa yang tengah bertikai. Namun daerah menjadi semacam lintasan peluru, karena jalan didepan kediaman Pangdam dan RST menjadi semacam garis batas tidak resmi antara kelompok yang tengah bertikai. Kami berada ditengah-tengahnya!

Seorang prajurit jaga yang saya temui di mess menyarankan agar saya menghadap Aspers yang kebetulan ada diteras mess sebelah. Saya agak ragu mendapati seorang yang tengah duduk dikursi sorang diri tengah melamun. " Apa ini Aspers kodam atau bukan ya tanya saya dalam hati ketika menyaksikan seorang bapak mengenakan training dan sandal jepit, badannya kurus dan wajahnya agal pucat, rambutnya acak-acakan. Daripada keliru, lebih baik saya menunjukkan sikap militer, beliau saya sapa,
" Selamat pagi Aspers!" ucap saya lantang sembari memberi hormat.
Dia tidak membalas pengormatan saya, tetapi langsung menyapa dengan suara pelan dan senyum yang diupayakan,
" Dari mana dik, ada perlu apa?" tanyanya ramah.
" Siap ijin laporan,baru usai kaskus dapat perintah bergabung dengan Kodam XVI/Pattimura, baru sampai pagi ini menggunakan KM.Bukit Siguntang, mohon petunjuk Pak!"
" Ngapain kamu kesini?" ujar Aspers Kolonel Inf. Supriyadi (Pensiun Mayjen TNI) yang saat itu ternyata lagi sakit sambil menggeleng-gelengkan kepala tersenyum prihatin.
" Siap, melaksanakan perintah pak!" jawab saya.
Sepertinya ia tidak perduli jawaban saya, katanya,
" Biasanya jam segini sudah jeda tempur dik, ngga tau nih kok sampai sekarang belum reda juga ya?"
Tidak ada petunjuk yang beliau sampaikan, hanya menyuruh saya istirahat dan mencari tempat bila masih ada kamar yang bisa ditempati. Diluar, suara tembakan masih terdengar ramai. Berbagai jenis senjata terdengar sahut-menyahut tidak kunjung reda. Ada yang ditembakkan satu-satu, ada juga yang rentetan. Sekali-kali terdengar gelegar suara ledakan bom.

" Aduh mak, dua kali saya sudah melaksanakan tugas tempur di Timor Timur, namun tidak menemui pertempuran yang sebesar dan seramai ini suara tembakannya", ujar saya dalam hati. Saya teringat saat pra tugas di Timtim dengan Yonif 310, didalam sebuah lembah kami dihujani peluru dari berbagai arah dan jenis senjata. Selanjutnya kami ditanya, tembakan dari arah utara dari jenis senjata apa? Begitu juga dari selatan, timur, dan barat senjata jenis apa? Kmai harus menjawabnya dengan benar dan tidak keliru, sehingga dapat membedakan mana suara tembakan yang menggunakan senjata jenis M16, SS1,SP,G3,FN, dan lain-lain.

Hari itu di Ambon saya benar-benar bingung, karena dari suara tembakan begitu beraneka ragamnya senjata yang digunakan. "Senjata dari mana ya?" pikir saya. Kemudian saya mendapat jawaban dari anggota yang menjaga mess bahwa dua hari sebelumnya, Gudang Senjata Brimob di Tantui dijarah massa. Sebagian besar senjatanya jatuh ke kelompok merah, sisanya ke kelompok putih. Belum lagi senjata rakitan yang juga ribuan banyaknya, sehingga dapat dimaklumi bila hari itu pertempuran dan suara tembakan benar-benar memekak kan telinga.
Saya akhirnya menempati kamar paling ujung dibelakang, yaitu kamar Kapten Caj. Sutarno yang kebetulan lagi melaksanakan Piket Makodam, namun tidak bisa pulang karena terkurung dan terjebak dalam pertempuran. Saat saya mengontak yang bersangkutan untuk minya ijin, ia menjawab,
" Maaf, abang ini lebaran apa natalan?"
Saya bingung mendengar pertanyaannya, setelah dijelaskan barulah saya paham, dia ingin tahu apakah saya Muslim atau Nasrani.
Bila tadi pagi saya mendapat penjelasan dari prajurit 733 hati-hati dengan coklat atau Polri/Brimob yang dianggap musuh, kini saya seakan diminta untuk hati-hati lagi diantara sesama anggota TNI yang berbeda agama.
" Wah, gawat ini Mana mungkin sesama TNI saling curiga dan bunuh!" ujar saya dalam hati. Yang jelas ketika saya bilang saya berlebaran, maka saya langsung diperkenankan istirahat malam itu dikamarnya.

Saya sulit dan tidak bisa menerima bila prajurit TNI ada yang tidak solid, tidak netral atau memihak. Namun, kenyataannya dilapangan saat itu tidak dapat dipungkiri lagi bila diantara oknum TNI dengan berbagai alasan, satu dua orang ada juga yang terpengaruh sehingga bersikap tidak netral. Tapi secara intitusi netralitas TNI tersebut tetap terjaga dengan baik.

Di Mess siang itu saya berkenalan dan berbincang-bincang dengan beberapa orang perwira senior berpangkat Mayor, ada yang baru datang juga ada juga yang sudah lama berdinas di Ambon. Diantara perwira tersebut, ada yang sampai enggan menjelaskan nama sebenarnya. Karena ada yang sudah menyamar namanya agar bisa diterima di kedua komunitas. Seperti menggunakan nama Bali padahal dia bukan orang Bali. Perbincangan kami terasa kaku dan kurang nyaman. boleh jadi karena nama saya yang terkesan Islami dan perwira senior tersebut kebetulan Nasrani, sehingga aroma perseteruan kelompok putih dan merah yang tengah berlangsung diluar sana terbawa-bawa, membuat kami yang tidak terlibat konflik menjadi kaku juga lantaran berbeda agama.

Hal aneh yang patut disesali saat itu, diantara asrama TNI kemudiannya dihuni oleh para anggota yang beragama yang sama, yang berbeda agama meninggalkan asrama dengan alasan tidak aman. Sepertinya saat itu, asrama TNI dikuasai oleh pemeluk agama tertentu. Dalam keadaan seperti ini, saya menjadi maklum mengapa Kapten Tarno menanyakan saya lebaran apa natalan.

Sore menjelang malam, petempuran belum juga berhenti. Dari radio saya sempat memonitor berkali-kali Pangdam XVI/Pattimura Brigjen TNI Max Tamlea (Pensiun Mayjen TNI) selaku komandan Bantuan Militer mengeluarkan perintah lisan agar semua pihak yang tengah bertikai menghentikan tembak menembak, memerintahkan prajurit dilapangan untuk menjaga perbatasan antara dua komunitas agar tidak saling maju menyerang, dan beberapa perintah lainnya tentang pengamanan objek-objek vital.

Saat malam menjelang mess gelap gulita, begitu juga dengan kota Ambon pada umunya. Hanya lilin yang digunakan sebagai penerangan disamping senter. Habis menunaikan shalat maghrib dikamar, saya kedepan ke ruang tamu dan ruang telepon yang remang-remang karena redupnya cahaya lilin dan senter. Seorang perwira senior berbadan tegap besar dan berpakaian training, lewat telepon memberikan beberapa petunjuk kepada lawan bicara. Ia terlihat gusar dengan keadaan saat itu yang gelap gulita sementara mungkin banyak yang ia harus kerjakan. Ia mengeluarkan perintah kepada siapa saja yang ia lihat, termasuk saya yang abru datang. Saya hanya bisa menjawab " Siap, tidak tahu!". atas beberapa pertanyaan yang diajukan. Karena saya memang tidak tahu bagaimana listik mati, siapa yang harus dihubung, dan lain-lain.

Beliau semakin gusar karena mengaggap saya apatis, setelah saya jelaskan bahwa saya baru datang tadi pagi dia memakluminya. Keesokan harinya, baru saya tahu bahwa perwira semalam adalah Kolonel Inf. I Made Yasa, yang akan menggantikan Brigjen TNI Max Tamlea sebagai Pangdam XVI/Pattimura.

Usai makan malam, saya menunaikan sholat isya kemudian berzikir dalam kegelapan, saya berserah diri, pasrah kepada ketentuannya. Diluar suara tembakan tidak juga kunjung berhenti, bahkan semakin menjadi-jadi. Suara mesiu begitu jelas berseliweran diatas mess karena mess yang saya tempati ini posisinya diantara dua kelompok yang tengah bertikai.

Semakin malam, suara bom yang diledakkan semakin banyak bersahut-sahutan, seperti malam takbiran saja ramainya. Saya sungguh tidak bisa memicingkan mata walau sekejap pun, namun juga tidak tahu harus berbuat apa dan kemana. Entah karena lelah, lewat tengah malam saya tertidur.
Makodam mengungsi ke Mayon
Gema suara adzan subuh, lonceng gereja yang bertalu-talu, musik rohani yang mendayu-dayu dan dentuman-dentuman bom yang menggelegar membangunkan saya dari tidur yang kurang nyenyak. Saat terjaga yang terlihat hanya kegelapan, ternyata dari semalam lampu tak kunjung hidup. Sejenak saya sempat bingung, tengah berada dimana saat ini karena semua terasa asing, baik lingkungan maupun aneka macam suara yang terdengar saat itu. Namun perlahan saya menyadari bahwa inilah hari pertama saya di kota Ambon yang tengah dilanda konflik.

Usai berwudhu dan menunaikan sholat subuh, saya berzikir dan berdoa yang intinya agar saya selalu diberi kekuatan, kesabaran, dan senantiasa dalam lindungan-Nya. Diluar suara tembakan mulai terdengar, awalnya satu-satu, kemudian ada balasan, selanjutnya mulai ramai. Kebisingan suara tembakan dari berbagai jenis senjata kembalai mulai meramaikan sekeliling mess, diselingi suara sirene ambulan yang mungkin tengah melarikan korban kerusuhan. Pakaian PDL pun kembali saya kenakan, rasanya saya ingin segera keluar dari mess yang sepertinya terkepung itu. Tapi saya bingung mau kemana? Kedepan atau kebelakang mess? Semuanya penuh resiko. Karena saya tidak tahu dimana wilayah kelompok putih dan kelompok merah. Akhirnya saya coba untuk menenangkan diri, bertahan saja menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mama-mama yang mengelola dapur mess dan anak-anaknya sudah kabur entah kemana. Untunglah di meja ia masih sempat menyediakan sarapan nasi goreng yang sudah tidak hangat lagi, kemungkinan dibuat di malam hari sebelum ia melarikan diri. Dengan terburu-buru nasi goreng yang tidak jelas rasanya itu saya makan. Yang penting sarapan dulu, setelah itu terserah apa yang bakal terjadi. Setelah sarapan, saya lihat beberapa perwira senior gelisah, ada yang berpakaian preman, ada yang mengenakan PDL, Ada juga yang PDH. Kami sama-sama membungkam tidak tahu apa yang mau diomongkan gemuruh suara bom dan tembakan semakin menjadi-jadi, malah dengan jelas kami mendengar suara ledakan mortir!. Sebutir mortir jatuh beberapa puluh meter saja dari mess kami, suaranya menggelegar, serentak kami tiarap rata dengan lantai.

Seorang perwira memerintahkan semua yang ada di mess berkumpul. Jumlah kami sekitar belasan orang Ada Asisten, Waas, Kabalak, dan beberapa Pa Abituren Seskoad yang baru datang. Saya saat itu yang paling yunior. Kasdam XVI/Pattimura yang baru menjabat, Kolonel Inf. Agus Soeyitno (Pensiun Letjen TNI) dengan mengenakan PDH dilapisi jaket loreng dan dipinggangnya terselip sepucuk pistol, memberi pengarahan singkat yang intinya menyampaikan situasi konflik semakin gawat dan sulit diatasi. Kami diminta untuk secepatnya meninggalkan mess menggunakan Panser dan Tank yang sudah disiapkan.

Saya masih berdiri dihalaman depan mess saat panser tiba menjemput. Ketika saya membantu menaikkan barang seorang perwira senior, saya diperintahkan untuk langsung ikut juga. Tergopoh gopoh saya kembali ke kamar menyambar pluzak dan lari kembali menuju panser. Handuk, dan perlengkapan mandi semuanya tertinggal, begitu juga lampu lentera dan lemek alas tidur tak sempat dikemasi. Saya biarkan saja daripada ketinggalan panser yang akan segera berangkat. Panser melaju meninggalkan mess, membelah desingan peluru dan dentuman-dentuman mortir yang mulai berjatuhan bagai hujan.

Penumpang panser tidak ada yang membuka mulut, semua diam dengan wajah terlihat pucat. Saya tidak tahu panser menuju kemana, di balik kaca jendela panser saat meninggalkan mess saya lihat asap membumbung tinggi di beberapa tempat tidak jauh dari mess. sekelompok orang bersenjata berlarian sambil melepaskan tembakan-tembakan entah ke arah kelompok mana. Satu Peleton TNI pasukan pengamanan yang ditempatkan di dekat mess kami tinggalkan dengan posisi bertahan di belakang box pertahanan. Tugas mereka cuma satu, menjaga dan mempertahankan kediaman Pangdam dari para perusuh sampai ke titik darah penghabisan!
" Semoga para prajurit itu dapat mengatasi situasi dan tidak ada jatuh korban", doa saya dalam hati. Beberapa hari kemudian, saya mendengar kabar kediaman Pangdam dan mess kami dijarah oleh para perusuh. Nasib 1 Peleton pengaman tersebut tidak kami ketahui.
Panser berhenti, ternyata kami diungsikan ke benteng Victoria, Markas Yonif Linud 733/Masariku (saat ini markas Yonif 733 berada di Waiheru). Sebagian pejabat Kodam sudah disiapkan tempat tinggal sementara di asrama, ada juga perwira yang ditempatkan di ruangan data dengan menggunakan velbed. Sersan bagian senjata dan amunisi Yonif 733 menemui kami para perwira yang baru datang, menyodorkan kertas blangko yang harus diisi, blangko tersebut berisi identitas pemegang senjata. Setelah mengisi, kepada kami masing-masing diserahkan sepucuk senapan serbu M16 berikut 100 butir amunisi, serta empat magazine dan tasnya. Kami beserta seluruh prajurit Yonif Linud 733 yang tersisa di Mayon memang diperintahkan untuk bertahan apapun yang bakal terjadi.

Saya sempat bingung ketika menerima senapan dan amunisi tersebut. " Bukankah saya belum melaksanakan korp lapor dan belum diterima secara resmi sebagai warga Kodam XVI/Pattimura?" bisik saya dalam hati. Tapi itulah yang terjadi, keadaan Ambon yang sedemikian gawat tersebut menuntut segenap perwira Kodam dipersenjatai untuk mempertahankan diri dari berbagai kemungkinan yang bakal terjadi. Pemberian senjata laras panjang kepada para perwira memberi isyarat bahwa keadaan Ambon saat itu benar-benar siaga perang.

Ternyata hari itu, baik Pangdam lama maupun Pangdam baru, Kasdam dan para Asisten serta Kabalak sudah mengungsi ke Markas Yonif Linud 733/Masariku. Kesibukan staf hari itu dibantu prajurit 733 meningkat. Ruang Danyon berubah menjadi ruang Pangdam, Wadanyon menjadi ruang Kasdam, ruang-ruang Pasi Batalyon menjadi ruang Asisten. Ruang Data menjadi ruang Pa Staf lainnya. Ruang Bintal diruang DKT Yon. Bgai saya ini adalah hari pertama ngantor yang melelahkan, baik fisik maupun psikis. Sementara diluar sana gemuruh suara tembakan,bom, ledakan mortir masih saja berlangsung, bahkan semakin meningkat eskalasinya.

Karena dulu di Yonif Linud 432/Kostrad saya pernah menjabat Pabintal Batalyon, saya yakin di Yonif Linud 733/Masariku tentu ada juga pejabat Pabintalnya. Maka saya tanyakan kepada prajurit 733 apa di batalyon ada Pabintalnya? Ketika diberitahu ada, maka prajurit tersebut saya minta untuk menyampaikan ke Pabintalyon nya agar menghadap saya.

" Masariku!", seorang Letnan Satu Infanteri berseragam PDL, baret hijau dengan pistol di pinggang menyapa saya, kemudian dengan gerakan patah-patah memberi hormat.
Setelah penghormatan saya balas ia berujar,
" Izin bang, saya Ali Nurokhim, Pabintalyon menghadap!"
Saya bertanya lagi untuk meyakinkan diri saya sendiri.
" Dik, kamu Pabintal disini?",
" Siap bang!"
Saya lalu mengulurkan tangan seraya memperkenalkan diri. Kemudian saya tanya lagi,
" Saya belum punya tempat istirahat, mungkin kamu punya saran?"
Tanpa pikir panjang langsung dia menjawab,
" Siap, tinggal dirumah saya saja bang!"
" Wah saya tidak enak merepotkan kamu, apalagi kamu punya keluarga kan?" ujar saya. Namun dalam kondisi Ambon yang gawat itu mungkin Pabintal Yon ini prihatin melihat keadaan saya, dan ia pun berujar,
" Tidak apa-apa bang, saya ada satu kamar yang kebetulan kosong dan bisa abang pakai"

Saya bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Lettu Inf. Ali nurokhim S. Agserta dan keluarga yang memberi tempat istirahat kepada saya. Kebetulan posisi rumah Pabintal tersebut mengarah ke lapangan Merdeka depan Kantor Gubernur Maluku. Didepan rumah tersebut hanya ada pagar kawat besi sebagai pagar batas komplek,tidak sebagaimana rumah-rumah lain di asrama yang dibatasi tembok benteng Victoria yang tebal dan kokoh hasil peninggalan Belanda. Dengan demikian, posisi rumah tersebut dapat dikatakan rawan karena bila ada tembakan dari luar komplek mengarah ke rumah tersebut, maka rumah tersebut akan terkena tembakan karena tidak adanya penghalang.

Listik di asrama juga mati, keadaan benteng Victoria dan kota Ambon pada umunya gelap gulita. Selanjutnya saya memperoleh informasi tentang konflik Ambon, keadaan saat itu, serta prajurit 733 yang dikonsinyirkan tidak boleh keluar komplek. Karena, bila keluar komplek, dapat dipastikan akan terlibat konflik, sebab yang berkonflik dan jadi korban kebanyakannya adalah masih familia atau saudara-saudara dari prajurit ini yang kebanyakannya putra Ambon.

Malam beranjak larut. Saya beristirahat di kamar depan yang posisinya dekat dengan jalan raya. Lampu saya matikan agar cahayanya tidak dijadikan sasaran bidik. Dari balik kaca jendela saya intip suasana diluar. Kilatan api moncong senjata berkelebatan dibeberapa tempat bangunan tinggi, mungkin bangunan hotel, ruko atau gereja. Gemuruh suara tembakan benar-benar memekakkan telinga, disela suara dentang lonceng gereja dan takbir, serta sirene yang meraung-raung membawa korban.

Prajurit 733 konsinyir dan siaga. Namun malam itu diperintahkan untuk tidak ada yang mengeluarkan tembakan kecuali atas perintah. Dalam kegelapan prajurit bersiaga dibelakang tembok pagar dan di belakang box-box pertahanan. Hanya menyaksikan kota Ambon yang gelap gulita diselingi kilatan-kilatan cahaya yang berkelebatan dari moncong bedil. Malam itu langit kota Ambon bagaikan tengah perayaan pesta kembang api.
Sertijab Pangdam di Ruang Danyon
Pagi hari, Senin 26 Juni 2000 saya yang sudah mengenakan PDL loreng dapat perintah untuk berganti PDH, selanjutnya berkumpul diruang Mayon. Ternyata pagi itu akan dilangsungkan acara serah terima jabatan Panglima Kodam XVI/Pattimura dari Brigjen TNI Max. M. Tamlea kepada Kolonel Inf. I Made Yasa. Yang hadir tidak banyak, hanya sekitar 20an orang perwira saja. Kami yang hadir membentuk barisan bersaf dua di ruangan tamu Mayon Linud 733.

Saya berdiri bersebelahan dengan Mayor Caj. Ahmad Khozim, sepintas terlihat ia begitu gelisah. Setelah berkenalan dan berbincang sesaat, saya jadi tahu kalau ia saat itu mengemban tugas selaku Komandan Satgas Bintal TNI. Ia gugup dan stress bukan saja karena untuk mencapai benteng Victoria pagi itu harus melewati jalan-jalan yang berbahaya dan penuh dengan suara tembakan, tapi juga memikirkan anggota-anggota Satgas yang dipimpinnya sudah kocar kacir dan tidak dapat lagi ia kendalikan. Saat itu, anggota Satgas Bintal TNI ada yang masih berada di Ambon, ada yang sudah di Laha, dan mungkin ada juga yang sudah di Surabaya, terpencar karena masing-masing ingin menyelamatkan diri. Saya tidak tahu apa pikirannya setelah bertemu dan berkenalan dengan saya. Boleh jadi dalam hatinya ia berujar,
“ Kasihan nasibmu Srar, Satgas Bintal TNI pada kocar kacir dan kabur dari Ambon, kamu sebagai Pabintal malah datang kesini. Apa mau mencari mati?!”. Yang jelas kalimat yang keluar dari mulutnya adalah,
“ Jaga dirimu baik-baik ya dik, semoga Allah SWT melindungimu” ucapnya dengan nada bergetar.

Perbincangan kami terputus sampai disitu. Acara Setijab segera dimulai. Tidak ada KASAD apalagi Panglima TNI menghadiri Sertijab Pangdam XVI/Pattimura tersebut, hanya Sang Saka Merah Putih dan Pataka Kodam XVI/Pattimura dan kami 20an orang perwira sebagai saksi. Acara Sertijab Pangdam yang mungkin paling sederhana dan unik sepanjang sejarah di jajaran TNI-AD, karena dilaksanakan bukan di Makodam atau Mabesad, melainkan justru di Mayon, tempat dimana sementara waktu Makodam XVI/Pattimura mengungsi.

Karena dalam acara Sertijab tersebut tidak ada Irup yang akan memasangkan tanda jabatan dan pangkat Panglima, maka Kolonel Inf. I Made Yasa memasangkan tanda jabatan dan pangkatnya sendiri!. Mungkin karena bidang bahu beliau yang besar, maka saat menanggalkan dan memasangkan pangkat sendiri beliau kesulitan. Cukup lama ia coba memasangnya sendiri namun tidak kunjung bisa, tapi tidak juga ada yang bereaksi untuk membantu beliau, tidak juga Kowad yang membawa acara. Akhirnya dengan pertimbangan saat itu saya yang paling yunior dan berada di paling ujung barisan serta hanya berjarak beberapa langkah dari Panglima, maka dengan inisiatif sendiri saya maju ke depan, selanjutnya membantu beliau memasangkan tanda pangkat Panglimanya. Setelah terpasang, saya kembali ke tempat dan sesaat kemudian acara Sertijab yang sederhana itupun berakhir sudah.

Kemudian hari, bahkan sampai sekarang bila teringat peristiwa tersebut saya jadi geli dan senyum sendiri. Dalam situasi normal, kejadian seperti di atas tentu tidak mungkin terjadi. Bila kondisinya bukan darurat dan saya berani-beraninya tampil ke depan memasangkan tanda pangkat panglima, tentu saya sudah dihajar habis-habisan oleh senior, karena saya dianggap telah menyalahi aturan upacara militer. Di mana, yang memasangkan tanda pangkat seorang Pangdam tersebut adalah Panglima TNI atau KASAD. Tapi karena situasi saat itu di Ambon memang serba darurat, maka apa yang saya lakukan menjadi sesuatu yang wajar-wajar saja. Tidak ada yang menegur dan mempersoalkannya. Boleh jadi karena saat itu kami lagi menghadapi persoalan yang lebih besar, menyangkut hidup dan mati kami di daerah penugasan, serta beban tugas yang tidak tingan, menghentikan kerusuhan yang tengah merajalela di Ambon dan Maluku.

Usai acara Sertijab dan bersalaman dengan terburu-buru, tanpa banyak meninggalkan pesan apa-apa, Brigjen TNI Max M. Tamlea menuju kenderaan panser yang sudah disiapkan untuk membawanya, sebelum masuk kendaraan kami sempat berfoto bersama. Namun hingga saat ini saya tidak tahu entah siapa yang sempat mengabadikan dan menyimpan foto bersejarah tersebut. Selanjutnya, dengan kawalan Panser dan Tank, mantan Pangdam XVI/Pattimura tersebut meninggalkan Ambon. Saya dapat merasakan keharuan diwajah Jenderal putra Ambon tersebut saat ia meninggalkan tanah kelahirannya dalam keadaan rusuh dan berkobarnya perang. Pangdam XVI/Pattimura yang baru, Kolonel Inf. I Made Yasa selanjutnya mengumpulkan kami para perwira staf di depan Mayon. Dalam pengarahan pertamanya, Pangdam meminta kami semua untuk mendukung kepemimpinanya, meminta kami tidak memihak pada salah satun kelompok, selalu menjaga netralitas dan solid. Kehadiran beliau yang bukan Muslim dan bukan Nasrani, tetapi Hindu sebagai Panglima di Maluku, diharapkan mampu bersikap netral, sehingga pertikaian antara kelompok Muslim dan Nasrani yang berlarut terjadi di Maluku dapat segera dihentikan. Hari itu saya sempatkan diri menghadap Kasdam d iruang kerja daruratnya untuk laporan korp. Tapi karena kondisi yang serba darurat, saat itu ia tidak membutuhkan saya untuk laporan secara formal, intinya ia meminta saya untuk menyesuaikan dan melakukan apa yang dapat dilakukan.

Sebagaimana layaknya suatu Pos Kotis dalam sebuah penugasan operasi, maka ruang data kemudian berubah fungsi menjadi semacam ruangan operasi. Kami menyusun peta dan menempelkannya di dinding, memberi judul, kordinat, tanda-tanda medan, objek vital, dislokasi satuan, kejadian yang menonjol, dan berbagai keterangan lainnya. Juga disiapkan pemancar radio untuk memonitor keadaan dan menerima laporan situasi dari satuan-satuan dilapangan. Ada beberapa senior tamatan Seskoad yang cukup sibuk saat itu, sementara saya yang hanyan tamatan Secapa hanya membantu-bantu saja. Pokoknya, apa yang bisa dikerjakan, saya kerjakan!.

Darurat Sipil
Konflik yang terjadi di Ambon Maluku bukan lagi tawuran antara dua kelompok massa yang saling menyerang menggunakan golok, parang, tombak, panah, serta aneka ragam senjata tajam lainnya. Di mana aparat keamanan baik Polri maupun TNI dapat mengatasinya dengan menggunakan pasukan Dakhura, semprotan gas airmata dan tembakan peringatan ke udara, atau dengan menembak dalang perusuh dengan menggunakan peluru karet sehingga kelompok yang saling serang bisa dibubarkan. Akan tetapi, yang terjadi saat ini kedua kelompok yang bertikai melakukan serangan dengan menggunakan senjata api. Baik senjata api rakitan, maupun standard organik TNI/Polri. Bahkan menggunakan senapan mesin ringan, mortir, dan bom. Sehingga pasukan Dakhura TNI/Polri yang menggunakan tameng rotan disaat diturunkan sangat tidak berdaya mengatasi situasi, terkesan mencari selamat dan melakukan pembiaran kerusuhan. Banyak personil TNI/Polri yang menjadi korban di lapangan.

Konflik yang mungkin lebih tepat disebut dengan “perang kota” karena menggunakan aneka ragam senjata api, baik yang masuk ke Ambon secara ilegal maupun berasal dari jarahan gudang senjata Brimob di Tantui, ditambah dengan senjata api rakitan tersebut, membuat pemerintahan di Ambon Maluku lumpuh total. Guna mengatasi situasi yang sulit dikendalikan tersebut, disamping pimpinan TNI mengadakan pergantian Pangdam, pemerintah pusat di Jakarta terhitung hari Selasa pukul 00.00 WIT menetapkan status Darurat Sipil untuk wilayah Maluku. Bersamaan dengan pemberlakuan Darurat Sipil tersebut, maka Pangdam XVI/Pattimura Kolonel Inf. I Made Yasa selaku Pangkoops menggelar Operasi Siaga Pattimura 02, dengan tugas pokok melaksanakan pemulihan keamanan di wilayah Maluku dan Maluku Utara, mulai 27 Juni 2000.

Dalam upaya pemulihan keamanan maka Pangkoops mengeluarkan perintah tembak ditempat bagi kelompok manapun yang memulai penyerangan, meminta masyarakat agar menyerahkan senjata ke pos aparat terdekat dengan batas waktu 30 Juni 2000 pukul 24.00 WIT, atau sebelum aparat melakukan sweeping dan razia senjata yang akan mulai dilaksanakan sejak 1 April 2000. Ancaman tegas yang dikeluarkan oleh Pangdam selaku Pangkoops membuat eskalasi konflik langsung menurun drastis. Kota Ambon mulai sepi dari suara riuhnya tembakan dan bom.

Karena suara tembakan tidak lagi tedengar, saya memberanikan diri keluar benteng Victoria menggunakan pakaian preman untuk melihat-lihat suasana kota. Karena saya beragama Islam, saya disarankan untuk menggunakan jalan belakang benteng, atau jalan yang ke arah laut (Teluk Ambon). Saya menelusuri daerah pertokoan Ambon yang kebanyakan bangunannya hangus terbakar. Akhirnya saya sampai di Masjid Raya Al-Fatah Ambon. Saya penasaran ingin sholat di masjid tersebut. Cerita-cerita yang saya dengar adalah, ketika masjid tersebut diserang oleh kelompok merah, ada kekuatan ghaib yang melindunginya, sehingga masjid tersebut tidak tersentuh dan tetap berdiri utuh.

Di halaman masjid saya menyaksikan orang-orang sipil menyandang senjata. Saya lihat ada yang tengah tidur-tiduran di teras masjid, sedang di pinggangnya terselip sepucuk pistol FN. Sementara yang lain ada yang meneteng SMR Minimi dengan amunisi dalam bentuk rantai dikalungkan dileher dan bahu, persis Rambo difilem-filem. Banyak juga yang berseliweran membawa berbagai jenis senjata tajam dan senapan rakitan.

Usai melakukan sholat di Masjid Al-Fatah, saya mengitari komplek masjid. Dikomplek tersebut terdapat sebuah aula dan ruang pertemuan. Aula tersebut cukup luas dan dipenuhi oleh korban-korban kerusuhan. Ada yang dibalut perban di bagian kepala, kaki, bahu, perut, dan di tangan. Banyak yang tengah diinfus. Bahkan ada yang tengah meregang nyawa, kemudian meninggal dunia dengan luka parah. Yang saya rasakan aneh ketika menyaksikan yang baru meninggal tersebut. Keluarga yang hadir tidak ada yang meneteskan air mata. Orang tua tidak menangisi kepergian anak lelakinya, begitu juga seorang anak tidak menangisi kepergian bapaknya. Ternyata doktrin jihad sudah merasuk dan meresap dalam diri mereka, sehingga tidak ada yang perlu ditangisi bila seseorang meninggal pada saat menunaikan jihad fisabilillah.

Saya miris menyaksikan korban yang sedemikian banyaknya, namun saya merasa aneh, saya tidak melihat dimata korban tersebut kesedihan dan penyesalan, sepertinya mereka tidak perduli lagi dengan keselamatan sendiri. Wajah mereka terlihat biasa-biasa saja, bahkan terkesan sumringah dan bangga bahwa mereka telah turut berjuang membela saudar-saudaranya semuslim yang menurut anggapan mereka teraniaya dan perlu dibantu. Bahkan untuk jihad tersebut, jangankan luka, matipun sepertinya mereka rela.

Saya juga menyaksikan korban tewas yang tengah diusung dengan tandu menuju pemakaman, mereka mengusungnya dengan setengah berlari sambil mengumandangkan takbir dan tahmid memuji Allah, didahului oleh orang-orang yang menghunus pedang dan berjubah, serta diiringi oleh banyak pengantar yang sebagian besarnya adalah Laskar Jihad.

Tidak jauh dari Masjid Al-Fatah saya menyaksikan sebuah tempat service senjata. Aneka senjata saya lihat ada disana, kebanyakan adalah senjata api rakitan. Saya juga melihat ada senapan mainan yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa digunakan menggunakan amunisi sungguhan.
Perang Kota Terus Berkecamuk

Ancaman tembak ditempat bagi yang memulai penyerangan yang dikeluarkan oleh Pangdam XVI/Pattimura merangkap Pngkoops Kolonel Inf. I Made Yasa, awalnya cukup efektif menghentikan konflik. Sedangkan perintah untuk menyerahkan senjata ke pos-pos aparat TNI/Polri bagi mereka yang tidak berhak memegangnya belum ada yang mengindahkan. Bila sebelumnya orang leluasa dan tanpa beban menenteng senjata diman-mana, sekarang menyimpannya dan mengeluarkan bila dianggap perlu. Di antara alasan kenapa masyarakat tidak mau menyerahkan senjata, karena mereka belum yakin akan kenetralan aparat keamanan, dan juga khawatir aparat tidak mampu dan kewalahan melindungi mereka manakala kelompok lain menyerang kelompok mereka.

Kekhawatiran masyarakat tersebut dapat dimaklumi, karena realita di lapangan saat itu aparat memang terpecah dua. Misalnya anggota Kodam yang Muslim melaksanakan apel di Koramil Kota Ambon, sedangkan yang Nasrani apel di Makodam. Anggota Polda Maluku yang Muslim apel di Mapolres Taleke, sedangkan yang Nasrani melaksanakan apel di Mapolda. Aparat tidak leluasa atau tidak berani memasuki komunitas kelompok yang berlainan dengan agama yang dianutnya.

Mungkin melihat kondisi Ambon yang mulai tenang setelah tiga hari Darurat Sipil diberlakukan, dan dengan pertimbangan tidak akan ada lagi kelompok yang berani memulai penyerangan setelah dikeluarkan ancaman tembak di tempat, maka tempat-tempat yang semula dijaga ketat oleh aparat keamanan mulai dilonggarkan dan pasukan ditarik. Seperti pada daerah Poka yang terdapat Kampus Unpati dan perumahan Dosen.

Namun, entah siapa yang memulai, entah kelompok mana yang memicu, yang jelas konflik dan pertempuran sengit kembali berkobar di kedua belah pihak. Selama 4 hari 4 malam api berkobar-kobar memusnahkan bangunan di daerah Poka, Rumah Tiga, dan Waii. Drai pinggir Teluk Ambon dapat disaksikan asap membumbung hitam disiang hari, sedang di malam hari dari kejauhan terlihat titik-titik api yang bergejolak di seberang teluk tengah melalap ratusan bangunan dan rumah warga. Suara tembakan senjata dan mortir yang diledakkan sampai kedengaran hingga ke kota Ambon. Di Teluk Ambon pun terjadi tembak menembak antar penumpang speed boat. Speed boat bolak balik dari Kota Jawa, Poka, Rumah Tiga menuju Ambon mengantarkan korban dan menjempu laskar. Di darat sirene ambulan meraung-raung, tiang listrik dipukul bertalu-talu memekakkan telinga sebagai isyarat warga waspada. Meski Darurat Sipil diberlakukan, kerusuhan juga meletus di Maluku Utara, yaitu di Loloda bagian utara Pulau Halmahera.

Saat kerusuhan itu terjadi, entah jilid keberapa karena ada yang membagi konflik Maluku tersebut dalam beberapa jilid atau episode, saya memilih tidak keluar asrama 733 atau benteng Victoria. Ketika konflik mulai mereda, kedudukan Komando yang sempat beberapa hari mengungsi ke benteng Victoria dikemblikan ke Makodam di Batu Gajah. Pada saat itu, Pak I Made Yasa Pangdam XVI/Pattimura sudah naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal TNI. Karena keamanan masih sulit diprediksi, maka saat berangkat pulang kantor, Pangdam menggunakan Panser dan pengawalan. Kami yang semula melaksanakan apel di Kantor Koramil Ambon diharuskan apel dan berkantor di Makodam. Setidaknya jika dibandingkan dengan anggota Polda Maluku, anggota TNI lebih mudah disatukan. Ketika Pnagdam memerintahkan semua apel di Makodam, maka semua prajurit Kodam Pattimura apel di Makodam. Sementara anggota Polri saat itu masih apel terpisah-pisah.

Atasan saya atau Kabintaldam saat itu adalah Letkol Caj. Tetelepta Thoyse Anthon, seorang perwira Ambon yang juga seorang Pendeta, dan lulusan Seskoad. Walau sosoknya tinggi hitam dan berkumis, namun hatinya baik, sangat toleran serta berusaha untuk selalu bersikap netral dan berpikiran jernih. Saat dapat cerita bahwa, ketika kelompok merah menyerbu Asrama OSM, maka beliau menyelamatkan beberapa perwira Muslim yang terkepung dengan cara memasukkan ke dalam mobil box, sementara beliau sendiri dengan menggunakan seragam pendeta meminta perusuh untuk membuka jalan. Akhirnya para perwira tersebut lolos dari maut.

Pak Tetelepta atau kadangkala kami panggil Pak Thosy yang dulu melarang saya ke Ambon membawa keluarga. Ia menyambut saya dengan ramah di kantor Makodam, dan meminta maaf karena tidak ada anggota yang menjemput saya di pelabuhan tempo hari, karena suasana kacau dan komunikasi terputus. Meskipun beliau "Pendeta" dan saya "Ustadz" namun komunikasi kami lancar, sangat akrab, dan tidak sama sekali menggambarkan adanya permusuhan. Saya sangat senang memperoleh atasan yang komitmen berjuang untuk "Merah-Putih".

Walau sebagian anggota Bintaldam saat itu beragama Nasrani, saya mencoba untuk tidak membuat jarak, saya perkenalkan diri dan kami saling berkomunikasi dengan akrab dan lancar. Mula-mula terlihat keragu-raguan diwajah mereka terhadap saya atasannya, yang kebetulan berlainan agama. Namun saya berusaha ber positif thinking, meskipun kami berbeda agama saya tetap menganggap anggota Bintaldam tersebut sebagai saudara dan rekan saya. Saya juga menganggap anggota saya semuanya adalah orang-orang yang baik. Hanya keadaanlah yang membuat mereka ikut terseret dan terlibat konflik.

Sekitar jam 10.00 pagi, saya sudah diperintah Kabintal untuk pulang meninggalkan kantor. Beliau khawatir bila siang itu keadaan tidak kondusif, kemudian saya terjebak dan tidak bisa pulang. Sejak mausk kantor Bintaldam pertama kali, saya bertekad dalam hati untuk berusaha ngantor setiap hari, kecuali bila kondisninya benar-benar gawat. Beberapa anggota saat itu dengan alasan trauma dan keadaan belum benar-benar aman, malas-malasan masuk kantor.

Mungkin karena Kabintaldam adalah seorang tokoh masyarakat, ia dengan cepat memperoleh informasi keadaan situasi, ketika siang atau sore akan pecah konflik di suatu tempat. Ia buru-buru menyuruh saya cepat-cepat pulang, saat itu keadaan keamanan memang tidak menentu. Seorang perwira menengah di jalan tikus yang selalu saya lewati sempat terkena tembakan sniper dari sebuah gedung tinggi, untung bisa diselamatkan dan dievakuasi ke RSPAD di Jakarta.
Awas Kepala Bapak Putus!
Pagi itu saya agak telat berangkat kantor. Rekan saya yang kemarin bareng ke kantor sudah berangkat duluan. Mau berangkat sendiri saya masih khawatir dan belum hafal jalan menuju Makodam. Bila tidak berangkat, kemaren saya sudah bertekan akan ngantor setiap hari. Akhirnya saya berdiri saja di depan asrama dalam kebingungan. Sejenak kemudian saya melihat seorang anggota berpangkat Sersan menuju jalan raya. Langsung saya panggil dan tanya,
“ Mau ke Kodam Pak?”
“ Siap Kept, mau ke Kodam juga?”
Kemudian saya tanya,
“ Naik apa?”
“ Naik Becak Kept” dia menjawab.
Tanpa pikir panjang saya minta untuk berangkat bareng dan ia setuju.
Sersan tersebut bertepuk tangan dengan keras dan berseru
“ Becak!” ujarnya memanggil becak yang berada agak jauh diseberang jalan, tepatnya di dekat Gereja Maranatha. Becak datang kami berdua pun naik. Becak berbalik arah ke jalan di dekat Gereja Maranatha, selanjutnya melalui jalan raya yang cukup ramai, kebanyakan mengenakan kalung salib di dadanya.

Sejenak saya tiba-tiba tersadar. Saya telah salah jalan, karena sebagai Muslim, melewati jalan di daerah Nasrani sesuatu yang sangat rawan sekali. Belum ada yang berani melakukannya, karena saat itu resiko keamanan belum ada yang menjamin. Saya sangat was-was.

Walau ada rasa takut timbul, tapi saya sembunyikan. Saya mencoba tenangkan diri dan mengajak Sersan yang rupanya Nasrani itu berbincang-bincang ringan sambil tanya ini dan itu, tanpa menyinggung masalah agama dan konflik. Tas yang saya bawa didekapkan ke dada. Bukan karena kedinginan, tapi untuk menutupi papan nama di baju agar tidak terbaca orang-orang yang lalu lalang dan yang bergerombol dipinggir jalan. Jika ada yang membaca nama saya yang kental islaminya, bisa –bisa perjalanan saya akan terhambat. Saat itu, hanya dengan satu kali teriakan “Acang!” di daerah merah, maka seseorang yang dipanggil Acang tersebut dipastikan akan menjadi sasaran, dianiaya hingga tewas. Hal yang sama juga berlaku di wilayah putih. Bila ada teriakan “Obet!” karena ada seorang Nasrani yang nyasar, maka dapat dipastikan tamatlah riwayatnya. Alhamdulilah, saya dilindungi, setelah melewati RRI, akhirnya Becak yang membawa kami sampai di Makodam

Sesampai di kantor saya berbincang-bincang dengan anggota, anggota PNS dan Sersan yang beragama Islam yang sudah lama berdinas di Bintal. Ia sudah hampir pensiun, dan bertanya kepada saya bareng siapa tadi kekantor. Saya jawab bahwa saya tadi bareng anggota Denma, sama-sama ke kantor naik becak. Saya beritahu rute yang saya lewati. Mendengar penjelasan saya, anggota PNS yang sudah Haji itu dan terbilang senior langsung emosi dan marah-marah,
“ Wah Bapak! Putus nanti kepala Bapak! Putus kepala Bapak! Jangan diulangi lagi! Bahaya Bapak!” ujarnya menasehati.

Saya sempat bingung kenapa anggota tersebut begitu emosi menasehati saya. Tapi kemudian saya sadar, ungkapan yang disampaikan tersebut bukan karena membenci saya, sebaliknya karena ia sayang, pada saya dan memperingatkan saya untuk tidak melakukan hal-hal yang berbahaya dan mengundang resiko. Rupanya beberapa waktu sebelumnya di daerah yang saya lewati tadi, sudah beberapa orang yang dipenggal kepalanya dan dibuang keselokan dipinggir jalan. Saya jadi ngeri jika mengingat hal tersebut.

Setelah pulang ke Asrama, saya sempat ngomong kepada Letnan Ali, antara lain saya terucap juga kejadian naik becak tadi. Mendengarnya kembali saya kena marah, kali ini senior diomelin junior,
" Abang kok berani-beraninya? Saya saja yang lama disini tidak berani. Untung abang masih selamat, bisa-bisa kepala abang dipenggal dan hanya pulang tinggal nama. Apa abang mau?" ujarnya agak emosi.

Ungkapan junior tersebut saya terima dengan kepala dingin, saya yakinkan dalam hati saya bahwa teguran yang diberikan junior tersebut sama dengan yang disampaikan oleh bapak PNS tadi pagi di kantor, yaitu semata karena ia sayang kepada saya. Kemudian hari, teguran dan omelan itu ternyata ada benarnya, dalam pusaran konflik yang sudah tidak terkendali orang menjadi gelap mata, tidak lagi memandang saudara atau aparat, yang jelas bila ia berbeda agama dan terjebak dalam konflik di suatu komunitas yang bukan agamanya, maka sampai disitulah suratan nasibnya, memperoleh perlakuan kejam dan dibunuh secara keji. Di antara anggota TNI yang tewas ada yang dibakar hidup-hidup hingga tewas oleh massa perusuh hingga gosong.

Penemuan mayat tanpa kepala yang dibuang di selokan atau di laut saat itu sepertinya sudah menjadi berita yang biasa. Ironisnya, perilaku keji membunuh manusia tanpa prikemanusiaan tersebut dilakukan dengan membaw-bawa agama. Padahal, tak satupun agama di dunia ini yang menyuruh umatnya untuk berlaku keji terhadap sesama mahluk. Tapi itulah kenyataannya yang terjadi di Maluku saat itu, agama yang selalu mengajarkan kedamaian pada umatnya telah diselewengkan.
Pergi Ceramah Naik Panser

Karena untuk sementara waktu saya masih tinggal di asrama benteng Victoria, atau menumpang di rumah Lettu Inf. Ali Nurokhim S.Ag, Pabintal Yonif Linud 733/Masariku. Suatu hari kami berbincang-bincang tentang kondisi mental prajurit Yonif Linud 733 saat itu. Dari perbincangan tersebut saya memperoleh kesimpulan bahwa mental prajurit saat itu dalam kondisi yang memprihatinkan, terkontaminasi konflik, sehingga ketika mereka masih bisa bertahan hidup bersama dalam satu asrama antara Muslin dan Nasrani sesuatu yang patut disyukuri. Saat itu dapat dikatakan hampir tidak ada lagi tempat lain di Ambon yang netral dan aman kecuali di asrama Yonif Linud 733/Masariku. Karena aman, asrama 733 tersebut sering digunakan sebagai tempat pertemuan oleh kedua belah pihak yang bertikai dalam mengatasi berbagai keperluan. Inilah sesuatu yang menurut saya patut dibanggakan dari Yonif linud 733/Masariku saat itu.

Kalau di luar kemudian ada yang menuding prajurit terlibat konflik, maka itu hanyalah oknum dan biasanya terjadi ketika ia cuti atau pesiar pulang ke rumah, sementara rumahnya di bakar dan keluarganya dibantai perusuh, melihat keadaan tersebut ia tidak bisa tinggal diam sehingga akhirnya ikut turut dalam konflik, jadi karena memang keadaan yang memaksa mereka terlibat. Namun ketika mereka bersama-sama dalam kesatriaan, meskipun berbeda agama, prajurit masih mampu menunjukkan solidaritas dan kekompakan. Masih tunduk pada perintah atasannya meskipun sekali lagi agama menjadi pembeda.

Untuk menjaga agar prajurit tetap kompak di dalam asrama dan netral di lapangan, maka saya menyaranka ke Letnan Ali agar merencanakan kegiatan pembinaan mental (Bintal) untuk anggota, bukan pembinaan rohani untuk agama tertentu, akan tetapi bintal yang diikuti oleh semua prajurit tanpa membedakan agama. Saran tersebut diteruskan Letnan Ali kepada Danyonif Linud 733. Danyon setuju dana sepertinya bersyukur bahwa dalam kondisi yang belum relatif aman tersebut, saya bersedia memberikan jam Bintal bagi prajurit di Kompi-Kompi jajaran Yonif linud 733/Masariku.

Setelah sesuatunya direncanakan dan dikordinasikan, maka pada hari pelaksanaan saya dijemput ke kantor. Inilah tugas pertama saya selaku Pabintal untuk memberikan ceramah pembinaan mental bagi personel Kodam XVI/Pattimura.
" Mana kendaraannya?" ujar saya saat mau berangkat dihalaman Kodam.
" Kita naik Panser bang!" ujar Lettu Ali Nurokhim.
Saya sempat bingung, kok harus naik panser? Tapi keadaan saat itu memang belum kondusif. Sniper-sniper dari bangunan-bangunan tinggi masih merajalela.. Di panser beberapa orang prajurit pengawal sudah disiapkan.

Semula saya mengira akan naik panser sampai ke Kompi. Ternyata kami menuju ke pinggir laut, disana telah menunggu speed boat, kami menggunakan speed boat menyeberangi laut Teluk Ambon, tepatnya ke arah Waiyame. Kami berlabuh dan turun bukan d ipelabuhan tapi di pinggir pantai yang teduh. Di sana telah menunggu beberapa prajurit Kompi yang menjemput kami. Selanjutnya kami menyusuri jalan setapak yang penuh ilalang diatas rawa becek. Setelah menyeberangi jalan raya, maka sampailah kami di Markas Kompi C Yonif Linud 733/Masariku di Waiyame. Saat itu anggota sudah menunggu di aula, duduk rapi bersila.

Sebelum memulai bintal saya meminta prajurit menyanyikan Mars Batalyonnya. Mereka menyanyikan nya dengan semangat dan kompak. Inilah salah satu dari ciri-ciri Batalyon Tempur yang membanggakan. Setelahnya, ceramah pembinaan mental saya mulai. Dalam kesempatan tersebut, saya juga melakukan dialog. Menanyakan keadaan prajurit, kehidupan keluarga dan tugas yang embannya. Ada yang bisa saya berikan jawaban, ada yang hanya ditampung untuk suatu saat saya sampaikan kepada atasan atau komando.

Usai memberikan pembinaan mental di Kompi C, selanjutnya kami menuju Waiheru dimana Kompi A, Kompi B, dan Kompi Bantuan berada. Ditempat ini, disamping prajurit juga dilibatkan ibu-ibu Persit. Dengan adanya kegiatan bintal ini, ibu-ibu Persit yang sebelumnya membatasi diri untuk bertemu selain seagama, akhirnya dapat berkumpul lagi. Keharuan nampak menyelimuti pertemuan para ibu-ibu ini. Diantara saran ibu-ibu Persit, agar ada Perwira Rohani Nasrani yang memberikan mereka bimbingan rohani secara berkala, karena saat itu banyak tempat-tempat ibadah yang dirusak massa.

Mengajak anggota untuk berdamai dan saling memaafkan bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak jarang dalam tanya jawab saya terpojok dan jadi sasaran emosi anggota yang saya bina. Mereka bilang,
" Enak saja Bapak bicara damai, coba bapak bayangkan, bertahun-tahun saya mencicil rumah BTN, baru saja lunas rumah saya dibakar....!"
Yang lain bicara,
" Kalau orang tua dan anak bapak dibunuh orang, apa bapak diam saja?" dan beberapa pertanyaan lainnya.

Yang bisa saya lakukan mendapat pertanyaan tersebut hanyalah menunjukkan empati. Meminta mereka untuk bersabar menerima segala musibah, membunag jauh rasa dendam yang membara di dada.
Tinggal di Ruko atau Ngontrak

Kota Ambon identik dengan kota ruko (rumah toko), boleh jadi karena lahan kota dipinggir pantai Teluk Ambon itu sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Apalagi sebagai ibukota provinsi dan memiliki pelabuhan alam yang strategis, membuat Ambon menjadi kota kunjungan dan persinggahan. Kata orang, sebelum Ambon rusuh kota ini sangat diminati pelancong, sehingga tidak mengherankan bila banyak bertebaran rumah hiburan dan restoran di kota ini. Keterbatasan lahan dan banyaknya penduduk disiasati oleh warga Ambon yang berkecukupan dari segi ekonomi dengan membangun rumah bertingkat dan ruko. Sehingga kota Ambon meskipun lebar lahannya sedikit, tapi bangunanya menjulang tinggi, empat, lima, bahkan enam tingkat atau lebih tinggi lagi.

Pada saat meletus konflik, ruko-ruko tersebut banyak yang dijarah dan dibakar massa. Terutama ruko-ruko yang letaknya didaerah perbatasan antara komunitas yang bertikai. Hampir seluruhnya ditinggalkan oleh penghuninya, karena bagi sang pemilik saat itu lebih memilih mengutamakan keselamatan ketimbang harta benda dan bangunan ruko yang telah dibangun dengan megah dan susah payah selama ini.

Ketika konflik tengah hangat-hangatnya, tidak jarang gedung-gedung ruko yang tinggi dan dianggap strategis tersebut dijadikan tempat bersemayam nya para sniper dari kelompok yang berseteru. Tembakan balasan kearah sniper itupun bertubi-tubi, hal ini terlihat dengan banyaknya lubang-lubang bekas peluru di dinding bangunan tersebut. Karena cukup lama saya menumpang di kediaman Letnan Ali dan keadaan kota Ambon mulai kondusif, maka saya berfikir sudah saatnya saya keluar dari asrama benteng Victoria, mengingat saya bukan organik Yonif Linud 733/Masariku. Diantara anggota Kodam saat itu mulai ada yang menepati ruko yang ditinggal mengungsi oleh pemiliknya, karena bagi anggota yang Muslim untuk tinggal di asrama OSM atau Felentin mereka tidak berani sehingga memilih mengungsi ke ruko-ruko tersebut.

Suatu hari saya jalan-jalan di jalan depan Amplas (Ambon Plaza) yang saat itu masih tutup. Didepannya terdapat beberapa ruko, ada yang sudah terbakar hangus, ada juga yang masih utuh. Diantara yang utuh tersebut ada yang sudah dibongkar dan dihuni serta dijarah perusuh, ada juga yang masih terkunci. Saat itu, yang menguasai ruko-ruko yang ditinggalkan tersebut ada ditangan pengurus Masjid Al-Fatah yang dipercayakan untuk mengkordinir penempatan pengungsi di ruko-ruko yang ada diwilayah komunitas Muslim.

Saya bertanya kepada sesorang yang saya temui dijalan dekat ruko,
" Pak, siapa yang mengkordinir di daerah sini?"
" Ada Pak, sebentar beta panggil pak RT" katanya.
Syukurlah saya tidak menunggu terlalu lama, karena perkataan sebentar bagi orang Ambon waktunya bisa lama, bahkan hingga esok hari pun mereka masih menyebutnya sebentar. Suatu keanekaragaman adat, budaya, bahasa, dan kebiasaan di negara kita.

Setelah Pak RT datang dan tau kalau saya adalah Perwira Kodam, dia bersikap cukup ramah. Mungkin ia juga sudah maklum bahwa pengungsi bukan hanya orang-orang sipil, tapi juga anggota TNI. Oleh karena itu ketika saya kemukakan saya perlu tempat tinggal, ia langsung meresponnya dengan baik. Ia pamit sebentar untuk mengambil linggis guna membuka pintu besi ruko yang saya lihat dari luar cukup bagus.

Setelah pintu dibuka, ia menemani saya melihat-lihat kedalam ruko tersebut. Saya melihat kedalam ruko segala sesuatunya masih terlihat utuh, semua perabotannya lengkap dan bagus. Bahkan saya sempat membolak balik album foto pemilik rumah yang terdapat diatas lemari. Saya lihat foto-foto gadis remaja keturunan yang tengah berlibur ke Jawa, mungkin ke Ancol saya sudah lupa. Kemungkinan besar gadis cantik dalam foto tersebut adalah anak pemilik rumah. Saya juga mengecek kamar-kamarnya yang maish utuh dan bagus, ranjang yang empuk, tempat mandi yang dilengkapi shower dan bak berendam, seperti hotel saja.

Dilantai 4 saya lihat bekas-bekas jarahan, ada dinding yang sudah dijebol, beberapa perabot yang sudah dikemas dan siap-siap dipindahkan ke ruko sebelah. Ternyata walau ruko diluar terkunci, sudah ada yang memasukinya lewat bagunan sebelah. Setelah mengecek isi ruko saya meminta Pak RT mengamankan ruko tersebut dan memberi kertas tanda dipagarnya "Ditempati TNI". Saat itu begitu banyak ruko-ruko yang berisi pengungsi asal daerah tertentu. Ada yang sudah ditempati dan ada yang belum. Kalau tidak salah penempatan pengungsi diruko-ruko tersebut dikordinir dari Masjid Raya Al-Fatah.

Di asrama saya kemukakan ke Letnan Ali bahwa saya berencana pindah ke ruko, rukonya sudah saya dapatkan dan tinggal masuk. Namun dengan berbagai alasan, terutama alasan keamanan, Letnan Ali menyarankan agar saya tidak tinggal di ruko.
" Baiknya Abang mengontrak saja ditempat lain yang lebih aman, karena abang belum mengetahui betul kondisi disini, atau sementara waktu hingga benar-benar kondusif abang tetap tinggal ditempat saya saja".

Setelah saya timbang dan pikirkan lagi, walau disatu sisi dengan tinggal diruko saya diuntungkan karena dapat tinggal dirumah yang cukup megah secara gratis, tidak ada yang melarang, dan bisa menggunakan barang-barang yang ada sesukanya. Namun hati kecil saya ternyata menolak, saya seakan diingatkan bahwa itu milik orang lain dan bukan hak saya. Saya juga teringat dengan pesan-pesan senior pertama kali bertugas di Timtim dulu, nahwa didaerah operasi adalah tabu melakukan sesuatu yang tidak baik seperti mengambil yang bukan haknya, didaerah operasi kita dianjurkan untuk menjaga kesucian diri dan hati, karena dengan demikian Insya Allah kita akan selamat.

Akhirnya saya putuskan untuk mencari kontrakan saja, meskipun saya harus mengeluarkan biaya. kemudian saya mulai jalan-jalan sore untuk mencari kontrakan, terutama ke daerah Waihong, karena daerah inilah kebanyakan komunitas Muslim bermukim dana mengungsi, serta lokasinya tidak begitu jauh dari Makodam. Beberapa perwira saat itu ada yang tinggal dihotel, mungkin ngontrak dengan biaya yang relatif murah, saya pun tertarik untuk ikut bergabung. Namun, lagi-lagi Latnan Ali menyarankan ke saya agar sebaiknya saya jangan tinggal dihotel, karena tinggal dihotel diyakini lebih banyak mudhoratnya.

Setelah mendapat kontarakan yang pas, saya pun tinggal disana. Beberapa hari menghuni kontarakan, terjadi konflik di Jalan Diponegoro sekitar 500 meter dari kontrakan saya. Suara tembakan terdengar seharian hingga tengah malam. Tidur tidak bisa lelap karena sewaktu-waktu ada suara dentuman letusan mortir dan bom. Sekitar 100 meter dari kontrakan, berkerumun banyak massa dengan meneteng senjatanya masing-masing. Sementara suara tiang listrik yang dipukul bertalu-talu dimana-mana. Disamping isyarat bahaya, juga sebagai pertanda agar semua laki-laki berkumpul dan siap-siap untuk berperang. Saat itu sirene ambulan juga meraung-raung pertanda ada jatuh korban.

Karena massa yang merengsek terlalu banyak dan aparat yang berpos di Pohon Bule tidak mampu menghalangi, maka saya saksikan prajurit yang berkekuatan 1 regu tersebut memilih mundur meninggalkan pos mereka. Mungkin dengan pertimbangan bakal menjadi bulan-bulanan jika tetap bertahan dipos yang berada ditengah-tengah massa yang siap-siap berperang.

Karena konflik Maluku belum juga berakhir, pemerintah pusat menambah satuan TNI yang terdiri dari satuan-satuan elit (Kostrad, Kopasus, Marinir) untuk bertugas di Maluku. Pangkostrad Letjen TNI Ryamizard Ryacudu menyempatkan diri mengunjungi prajurit Kostrad yang bertugas di Ambon.
Kumandang Adzan di TV dan RRI

Pada umumnya setiap daerah di Indonesia memiliki stasiun pemancar TN dan RRI, ketika waktu maghrib maka suara adzan dikumandanghkan lewat kedua media elektronik tersebut. Namun, 1 bulan saya di Ambon nyaris tidak pernah mendengarkan kumandang adzan maghrib bail lewat RRI maupun TVRI Ambon. Disamping itu acara rohani Islam juga tidak pernah diperdengarkan. Karena penasaran, suatu hari saya bertanya kepada rekan satu kontrakan, kenapa di Ambon tidak ada suara Adzan di TV dan RRI? Rekan tersebut menjawab,
" Siapa yang menyiarkan? Stasiun TV dan RRI nya diwilayah Obet, siapa yang berani kesana? Mau cari mati apa?"
Saya bingung mendapat jawaban tersebut.
" Lho Pak, bukannya TV dan RRI milik pemerintah?"
" Ahh itu dulu, buktinya sekarang? TV dan RRI dikuasai Obet semuanya!"

Adanya ceramah rohani lewat TV dan RRI menurut hemat saya amat dibutuhkan oleh segenap penduduk Ambon yang saat itu tengah dilanda konflik, terutama bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal dan keluarga. dengan adanya siraman rohani tersebut setidaknya masyarakat bisa sabar dan tawakkal menjalani kehidupan di tempat-tempet pengungsian, selalu bersikap optimis menghadapi hari depan. Unutk maksud tersebut, suatu hari saya minta ijin Kabintaldam menemui pImpinan RR Ambon.

Dengan dikawal seorang anggota beragama Nasrani, saya mendatangi RRI Ambon sambil membawa naskah ceramah yang sudah saya persiapkan, yang intinya mengemukakan bahwa ajaran agama mengajarkan manusia untuk hidup damai dan rukun serta melarangnya untuk saling menyakiti, apalagi saling membunuh antara satu sama lain.

Pegawai RRI Ambon memandang aneh kepada saya yang memasuki kantor dengan mengenakan PDL. Apalagi setelah mengetahui saya seorang Muslim, mungkin karena berfikir kok berani-beraninya ditengah keamanan Ambon belum kondusif saya datang ke kantor mereka yang semua isinya saat itu pegawa Nasrani. Tapi saya tidak perduli, toh maksud dan tujuan saya untuk kebaikan, sehingga rasa takutpun saya buang jauh-jauh.

Saya katakan bahwa saya ingin ketemu pimpinan RRI atau Kepala Bagian Penyiaran. Setelah ketemu dan memperkenalkan identitas diri, saya kemukakan maksud saya,
" Pak, ini masih RRI kan? Bukan Radio milik kelompok tertentu?" tanya saya.
" Iya dong Pak, kita ini RRI " jawab pimpinan RRI Ambon tersebut dengan ramah.
" Kalau begitu, saya mau bertanya kenapa RRI Ambon tidak pernah menyiarkan kumandang Adzan Maghrib, dans elama ini hanya menayangkan mimbar agama Nasrani serta tidak pernah menayangkan mimbar agama Islam?" tanya saya langsung saja kepokok persoalan.
" Sebenarnya, bukannya kami tidak mau menayangkannya pak, tapi apa yang mau ditayangkan? Tidak ada ustaz-ustaz yang dulunya suka mengisi acara mau datang kesini untuk melakukan siaran", ujarnya.
" Oh begitu, kalau demikian mulai hari ini sudah ada Pak. Saya akan rekaman untuk mimbar agama Islam, dan tolong pula diputarkan kaset Adzan saat waktu maghrib tiba", ujar saya.

Selanjutnya kami mebicarakan rekaman siaran mimbar Islam, kapan waktu rekaman dan berbagai masalah teknis lainnya. Kami juga membicarakan siaran mimbar agama Kristen Protestan, Katholik, dan juga Hindu, karen dikantor ada juga perwira yang menguasai dan membidangi agama tersebut.

Setelah komunikasi lancar, untuk pertama kalinya di stasiun RRI dan TVRI Ambon berkumandang adzan mahgrib dari radio-radio, tv di seluruh kota Ambon. seketika, pertempuran seakan berhenti antara kedua kelompok yang bertikai. yang muslim mengahayati kumandang adzan, yang Nasrani terdiam memikirkan kumandangan adzan tersebut berasal dari daerah kantong mereka. Kok bisa?berarti perdamaian bisa terjalin? Masih ada waktu untuk menyatukan persaudaraan kembali...pikir mereka.

Secara berkala, ceramah siraman rohani diisi oleh ustaz, pendeta dan pemuka agama masing-masing. Inti siaran seragam, yaitu menyerukan perdamaian dan perhentian pertumpahan darah, menyerukan persaudaraan, dan menghilangkan rasa dendam yang selama ini membakar seluruh Maluku. Jalan perdamaian telah dirintis disini, di RRI dan TVRI Ambon.

Reaksi:

0 komentar: