Politik Devide Et Impera Belanda di Indonesia !


Politik pecah belah atau disebut juga dengan adu domba adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan. Dalam konteks lain, politik pecah belah juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat.


Pada jaman dulu ketika Belanda menjajah negeri kita, mereka sudah menerapkan politik pecah belah dan dikombinasikan dengan politik belah bambu dimana jika Belanda sudah berhasil memecah belah lawannya selanjutnya dilakukan politik belah bambu dimana satu pihak yang menguntungkannya akan di dukungnya.

Lalu kenapa Belanda memilih politik ini ? Negeri kita terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama, sehingga perbedaan ini dimanfaatkan dengan baik.Perlawanan di berbagai daerah itu antara lain Perang Saparua, Maluku (1817) di bawah pimpinan Pattimura. Perang Padri (1821 – 1837) di Sumatera Barat yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Di Jawa muncul Perang Diponegoro (1825—1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro, didukung oleh Kyai Maja, Sentot Ali Basyah Prawirodirjo, dan Pangeran Mangkubumi. Perang Aceh (1873 – 1904) yang melahirkan tokoh-tokoh terkenal seperti Panglima Polim, Teuku Cik Ditiro, Cut Nyak Dien, Teuku Ibrahim, dan Teuku Umar. Tokoh perlawanan dalam Perang Banjar, Kalimantan (1858 – 1866) adalah Pangeran Prabu Anom, Pangeran Hidayat, dan Pangeran Antasari. Tokoh Perlawanan di dalam Perang Jagaraga, Bali (1849 – 1906) adalah Raja Buleleng, Gusti Gde Jelantik, dan Raja Karangasem, dan sebagainya. Lalu kenapa perjuangan mereka gagal ? karena setiap daerah tidak mau bersatu ! selain itu terdapat pula beberapa penguasa yang meminta bantuan terhadap Belanda , yang tentu saja bantuannya tidak gratis.


Apakah Belanda mengerahkan banyak tentara untuk menjajah negeri kita ? tidak mereka merekrut anak-anak negeri kita untuk dijadikan tentara kerajaan Belanda kebanyakan berasal dari daerah maluku selatan, merekalah yang sering disebut "Belanda Hitam" .


Tidak usah bingung akan contoh paragraf diatas, coba kita lihat yang terjadi di negeri Afganistan dan Irak sekarang, keadaan negeri kita tidak jauh dengan mereka. Nato berhasil menerapkan politik Devide Et Impera   sunni dan syiah di adu domba tinggal ledakkan satu bom di mesjid sunni sekali saja setelah itu akan terjadi pembalasan oleh kaum suni dan selanjutnya terjadilah demdam kesumat. Setelah itu diadakan pemerinahan boneka dan direkrutlah kaum muda mejadi tentara negara boneka tersebut dan akhirnya mereka berperang sesama mereka.






Reaksi:

0 komentar: